Islamic Online University Hadits 102
576
Menjelaskan hal ini, al-Bugha dan Mistu, dua penulis modern, menulis,
Dari hal ini, seseorang dapat melihat kesalahan yang banyak kaum
Muslimin lakukan, terutama selama masa ini. Perbedaan-perbedaan ini
bertentangan dengan kehidupan mereka. Seorang mendapati seseorang
sangat bersemangat dalam melakukan perbuatan-perbuatan ketaatan dan
perbuatan-perbuatan wajib. Dia bahkan mungkin sangat sempurna dalam
mengikuti perbuatan-perbuatan yang dianjurkan dan dicintai. Namun,
seorang juga mendapatinya, pada saat yang sama, lalai ketika sampai
pada melakukan perbuatan haram. Dia mungkin melakukan banyak
perbuatan yang haram. [contoh,] seorang dapat mendapati seseorang
yang berpuasa menjadi bagian dari transaksi riba. Seorang wanita yang
melakukan Haji dan membayar zakat meninggalkan rumahnya
menampakkan kecantikan mereka [tidak memakai hijab yang baik]...
orang-orang itu mengira bahwa ibadah-ibadah mereka itu akan
menyelamatkan mereka dalam pandangan Allah ﷻ... Namun, ini
bertentangan dengan apa yang Allah ﷻ, Yang Maha Bijaksana, Yang
Maha Pemberi Keputusan telah sebutkan. Ini ditegaskan dalam sunnah
dari pemimpin para rasul dan pemahaman dari para Sahabat mulia yang
terkemuka dan para Imam bahwa pondasi Islam adalah untuk
menghindari apa yang Allah ﷻ telah larang. [dan,] jalan kesuksesan
adalah berjuang melawan diri sendiri dan hawa nafsu dan membuat
semua itu terhindar dari perbuatan-perbuatan haram... Abdullah bin Umar
radiallahu’anhuma, Imam (pemimpin) orang-orang yang beriman,
menyebutkan, “Mengembalikan seperenam dirham [yang didapat secara
tidak sah] lebih baik daripada menginfakkan seratus ribu [dirham] di
jalan Allah ﷻ.” Al-Hasan al-Basri, pemimpin para Tabi’in, berkata,
“Hamba Allah ﷻ tidak beribadah dengan cara apapun yang lebih baik
selain daripada menjauhi apa yang Allah ﷻ telah haramkan.” Umar bin
Abdul Aziz juga pernah berkata, “Taqwa bukanlah shalat sepanjang
tengah malam dan berpuasa sepanjang hari dan mencampur [antara yang
dibolehkan dan tidak bolehkan] di antara keduanya. Tetapi taqwa adalah
melaksanakan apa yang Allah ﷻ telah wajibkan dan menjauhi apa yang
Allah ﷻ telah haramkan. Selain itu, jika ada beberapa amalan-amalan
[sunnah] itu adalah kebaikan di atas kebaikan.”
Ini menunjukkan pada kita bahwa menjauhi yang haram mengambil hak
yang lebih tinggi di atas melakukan perbuatan-perbuatan wajib. Ini bukan
berarti, sebagaimana yang kami sebutkan, bahwa seorang Muslim harus
lalai dalam mengerjakan amalan-amalan wajib. Beginilah perilaku dari
sebagian orang-orang yang memiliki penyakit hati dan jiwa yang lemah.